Selasa, 01 November 2011

Sebelum Anda Menyesal

Kadang kala orang menghadapi penderitaan fisik dan rohani serta berbagai kesulitan di dunia. Perasaan-perasaan (penderitaan) ini begitu kuat sehingga tidak bisa dibandingkan dengan rasa sakit fisik manapun. Perasaan yang menyebabkan tekanan besar dalam jiwa manusia yang dimaksud disini adalah sebuah perasaan yang disebut dengan 'penyesalan'. Ada dua bentuk penyesalan yang sangat berbeda satu sama lain. Yaitu,  penyesalan yang dirasakan oleh orang beriman dan penyesalan yang dialami orang yang tidak beriman (kafir). Orang-orang yang beriman  adalah orang-orang  yang memiliki  kepercayaan sepenuhnya bahwa setiap peristiwa yang terjadi merupakan Kehendak Allah, dan apa pun yang menimpa mereka juga atas Kehendak Allah.

 

Hal ini menjelaskan betapa mereka memiliki kepercayaan penuh dan tidak berputus asa pada Tuhan serta melaksanakan ibadah untuk memperoleh ketenangan, pada waktu-waktu yang utama, baik ketika berada dalam masalah atau ketika mereka melakukan kesalahan. Ketika melakukan kesalahan, orang beriman segera bertobat dengan tulus dan berharap ampunan dari Allah. Oleh karena itu, ia tidak mengalami penderitaan batin yang amat sulit dan penyesalan hidup yang berkepanjangan. Penyesalan yang dirasakan oleh orang beriman mendesak mereka untuk bertobat, untuk menyucikan diri dan mencegah mereka untuk mengulangi kesalahan ini. Hal ini membantu mereka memperbaiki kesalahan mereka dan mencegah mereka terjun ke dalam suasana hati yang amat sulit dan pesimis. Selain itu, penyesalan ini tidak mengurangi antusiasme mereka, pengabdian, atau semangat keagamaan, dan juga tidak menyeret mereka pada sebuah lingkaran ketakutan dan depresi.

 

                                                       

 

Di sisi lain, penyesalan yang dirasakan oleh orang-orang kafir sangat menyedihkan dan konstan, karena mereka tidak bertawakal kepada Allah ketika mereka menghadapi kesulitan atau melakukan hal yang dilarang oleh Allah. Sepanjang hidup mereka, mereka sering mengungkapkan "Saya berharap saya tidak melakukan ini ..." "Saya berharap saya tidak pernah mengatakan ini ...", dan sebagainya. Lebih pentingnya lagi, orang-orang kafir akan terjebak pada sebuah penyesalan yang jauh lebih besar di akhirat. Mereka yang memisahkan urusan agama dengan urusan dunia (sekuler), akan menyesal setiap saat dalam kehidupan mereka. Mereka telah diberi peringatan sebelumnya dan ditunjukkan jalan yang lurus. Mereka memiliki cukup waktu untuk merenungkan dan memikirkan mana yang benar. Namun mereka tidak mendengarkan ketika mereka diperingatkan, mengabaikan akhirat seolah-olah mereka tidak akan pernah mati.

 

Kemudian di akhirat, mereka tidak akan memiliki kesempatan untuk kembali ke dunia ini dan memperbaiki kesalahan mereka. Dalam Al-Qur'an, ungkapan penyesalan mereka tertulis sebagai berikut: Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: "Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah." (QS. An-Naba', (78):40) Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: "Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman", (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). (QS. Al-An'am, (6):27)   Mereka akan berkata: Dan mereka akan berkata: “Kalau saja kami benar-benar mendengarkan atau menggunakan akal kami (memikirkan peringatan itu), maka tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang apinya menyala-nyala.” (QS. Al-Mulk, (67):10) Perlu diingat bahwa pada hari itu tidak seorang pun yang menyesal akan diselamatkan dari murka Allah. Satu-satunya cara untuk menghindari penyesalan ini adalah dengan tunduk kepada Allah selagi masih ada waktu dan mematuhi segala perintah Allah. Patuhilah seruan Tuhanmu sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak kedatangannya. Kamu tidak memperoleh tempat berlindung pada hari itu dan tidak (pula) dapat mengingkari (dosa-dosamu). (QS. Asy-Syuura, (42):47)

 

Sumber: harun yahya wesite

 

Kamis, 13 Oktober 2011

5 Manajemen Mimpi

 

 

 

 “Kenyataan hari ini adalah mimpi kita kemarin, dan mimpi kita hari ini adalah kenyataan hari esok” (Hasan Al-Banna)

“Bermimpilah engkau setinggi langit” (Pepatah)

Setiap orang mempunyai area mimpi yang berbeda, karena setiap orang bebas untuk bermimpi, seperti burung yang terbang di angkasa, setiap orang dapat memilih ingin menjadi begini dan begitu, mau ini dan itu, yang intinya menggambarkan cerita sukses kehidupan, dan seluruh mimpi itu terangkum dalam jutaan keinginan kita. keinginan yang tak tahu dimana ujungnya waktu dan tempatnya.

Mimpi adalah suatu hal yang sangat urgent dalam kehidupan karena akan menunjukkan peta dan langkah kesuksesan kita. Mimpi memang membuat hidup jadi lebih indah karena keberhasilannya, namun banyaknya juga mimpi yang tak tergapai dan tak terbeli. Hanya orang mati sajalah yang tidak mempunyai keinginan dan mimpi.

Berani bermimpi adalah langkah awal untuk sukses, dan ketakutan kita untuk bermimpi awal dari kesalahan fatal dalam kehidupan. Selalu memperbaharui mimpi akan menjadikan hidup lebih bersemangat dan obsesif, meninggalkan dan melupakannya akan sebaliknya. Membatasi mimpi akan menjadikan kita terkungkung dalam sebuah kotak yang membuat gerak dan langkah kita menjadi terbatas.

Ada 5 hal, bagaimana kita mengelola mimpi-mimpi kehidupan kita :

1. Faktor mental

Mimpi itu sangat dekat kaitannya dengan khayalan dan pemikiran, olehnya faktor mental menjadi sangat berperan. Mimpi besar hanya bisa dilahirkan orang yang memiliki mental besar, orang memiliki mental langit yang dekat dengan Yang Maha Besar. Jangkauan mimpi dan berpikirnya akan jauh ke depan, menembus batas kehidupan setelahnya, ia akan menghasilkan karya-karya besar dan luar biasa dalam kehidupannya, sebaliknya orang yang takut kepada makhlukNya akan melahirkan mimpi yang kerdil, mimpi hanya tentang harta, tahta dan wanita, hanya mimpi sesaat dan sejauh mata memandang.

2. Reasonable

Mimpi itu memang harus masuk akal dan logika, i-reasonable mimpi akan hanya menjadi mission impossible kehidupan sebagaimana di film-film. Ada dua logika bagaimana kita merasionalkan mimpi, pertama: Logika Langit, Tuhan tahu apa yang terbaik untuk makhluk-Nya, logika langit adalah logika agama, inspirasi mimpi yang bersumber dari Wahyu dan sabda Nabi-Nya. Kedua; Logika Manusia, Tuhan tidak mendatangkan hujan emas dari langit, tapi mimpi itu harus logis dan dapat dikerjakan manusia, bukan sesuatu yang mengawang-awang.

3. Jelas

Banyak orang bermimpi, namun hanya sepintas lalu, samar-samar atau hanya setengah hati. Seyogianya mimpi itu haruslah jelas, plus minusnya, bagaimana gambaran detail mimpi itu, hipotesa mimpi dan rencana aksi harusnya suatu hal yang jelas dan tersusun dalam planning kehidupan. Kegagalan kita mendeclear, men-zoom dan memperjelas mimpi adalah kegagalan kehidupan kita.

4. Terkoneksi

Koneksi adalah sebahagian dari kesuksesan mimpi, terkadang ada suatu hal yang sebaiknya dikerjakan oleh bukan diri kita, tapi oleh yang lain. Kita boleh bermimpi dan berencana tapi Tuhan juga punya rencana, manusia yang lain juga punya keinginan dan rencana, tinggal bagaimana kita menyambungkan, mengkoneksikan dan menyesuaikan antara mimpi kita, rencana Tuhan dan keinginan manusia.

5. Sumber daya

Pengetahuan dan kepemilikan sumber daya memberikan pengaruh besar dalam mensukseskan mimpi. Sumber daya langit adalah sumber daya tak terbatas, “berdoalah (mintalah keinginanmu), Niscaya akan Aku kabulkan”. Di sisi yang lain, sebaiknya kita saatnya berfikir bagaimana mimpi kita dapat dibiayai orang lain, karena jika mengandalkan sumber pribadi, akan sangat terbatas. Ketiga sumber daya ini jika dimaksimalkan dan diintegrasikan akan sangat membantu suksesnya mimpi kita

Wallahu a’lam bishshawab.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/09/14758/5-manajemen-mimpi/#ixzz1ahliKIqY

Minggu, 02 Oktober 2011

Ngobrolin Kampus Bersama Telkomsel

Entrepreneur & Internship Program 2011

Merupakan program tahunan untuk para member TMC dengan memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan mahasiswa.
 
Program Seminar Entrepreneurship akan memberikan informasi mengenai scriptwriting dengan pembicara-pembicara dari dunia film, serta kesempatan untuk mengikuti kompetisi scriptwriting.
 

Program Seminar VAS Business & Knowledge akan memberikan informasi mengenai dunia telekomunikasi.

Program Seminar Informasi Bursa Kerja akan memberikan informasi mengenai dunia kerja serta kesempatan magang di berbagai perusahaan, termasuk Telkomsel.

 
 
Program Informasi BlackBerry Community akan memberikan informasi seputar BlackBerry, tips & trick, serta coaching clinic BlackBerry.



Nantikan di kotamu!

 

 

    NO

  KOTA

  VENUE

ADDRESS

            DATE

1

Medan

Auditorium Kampus Univ Negeri Medan  

Jl. William Iskandar Pasar 5 Medan

Selasa, 27 Sept

2

Denpasar

GOR Lila Bhuana - Denpasar

Jl. Melati No 1, Denpasar

Selasa, 4 Okt

3

Bogor

Graha Widya Wisuda Kampus IPB - Bogor 

Jl. Raya Darmaga, Bogor, Jawa Barat

Rabu, 12 Okt

4

Palembang

Graha Sriwijaya UNSRI - Bukit Besar

Jalan Srijayanegara Bukit Besar Palembang 30139

Kamis, 20 Okt

5

Surabaya

Graha Sepuluh Nopember Kampus  ITS - Surabaya

Jl. Kampus ITS Sukolilo - Tromol Pos 900/SB Kode Pos 60008 Surabaya

Rabu, 26 Okt

6

Samarinda

GOR Segiri Samarinda  Fadli-0812 5844146

Jl.Kesuma Bangsa

Selasa, 1 Nov

7

Purwokerto

Gedung Sumardjito Kampus UNSOED, 

Jl. Prof. Dr. H. Bunjamin No. 708 Purwokerto, Jateng

Selasa, 15 Nov

8

Makassar

Wisma Manunggal

Jl. Jendral Sudirman No. Makassar

Selasa, 22 Nov

9

Kendari

Auditorium Unhalu, Univ.Haluoloe

Kampus Hijau Bumi Tridharma Anduonohu, Kendari 93232

Sabtu, 3 Des

10

Jakarta

To Be Confirm

To Be Confirm

Desember

Info Lengkap : www.telkomsel.com

Sabtu, 12 Maret 2011

MENGHINDARI KESIA-SIAAN

by Harun Yahya (Adnan Oktar)
Lalai menghargai berkah atau pemberian dari Allah, menghabiskan atau menghambur-hamburkan sesuatu adalah bentuk kesia-siaan, bertentangan dengan yang Allah peringatkan dalam A-Qur’ân: “Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isrâ’, (17):26-27) Kelalaian atas limpahan berkah yang diberikan Allah menunjukkan kurangnya bersyukur padaNya. Seperti yang ditetapkan dalam Qur’ân, mengingkari syukur adalah sifat setan; oleh karena itu, mereka yang tidak bersyukur pada Allah dengan mengabaikan ketetapanNya, menjadi “saudara iblis” atau pengikut setan. Sementara keberkahanssemestinyasecara logisdapat meningkatkan rasa bersyukur seseorang kepada Allah, maka menyia-nyiakannya menunjukkan sikap pengingkaran, sebuah sikap yang mungkin akan mencabut rahmat dan berkah Allah pada seseorang di hari akhirat. Surga adalah tempatnya kemuliaan yang dihiasi oleh nikmat Allah yang sempurna dan tak terbatas. Akan tetapi, tak mungkin bagi seseorang yang tetap tidak peka terhadap limpahan berkah di dunia, dapat–dengan pantas–menghargai berkah Allah di surga dan memujiNya. Agar layak mendapatkan surga, seseorang pertama-tama harus menghargai apa yang telah Allah berikan padanya ketika masih di dunia. Meskipun seseorang mungkin menghindari pemborosan yang besar, tetapi ketidakpedulian, penyalahgunaan serta lalai atau salah dalam menjaga perkara-perkara yang kecil, dianggap sebagai bentuk pengingkaran syukur juga. Seorang mu’min–terutama–harus cermat dalam persoalan-persoalan demikian karena takut menjadi ingkar atau lalai dalam menghormati Allah. Dalam Al-Qur’ân, Allah menginginkan hamba-hambaNya memperoleh manfaat dari berkahNya menurut cara yang terbaik, sekalipun mereka dapat menghindari kesia-siaan: “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang bagus setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A`râaf, (7):31)

Sabtu, 30 Oktober 2010

Man Jadda Wa Jadda

Assalamu Alaikum wr. wb.
Berikut sebuah artikel yang saya postingkan dari blog sebelah mudah mudahan bisa bermanfaata untuk semua, dan terutama bagi saya pribadi yang sengaja searching artikel ini untuk lebih bersungguh-sunggung melaksanakan sesuatu.Dan tidak lupa terima kasih pada penulis sebenarnya semoga pahalanya bisa mengalir sebagai amal jariah

Diposkan oleh DETAK HIDUP on Jumat, Agustus 03, 2007 / Tags: Berkehendak, Lakukan, Sungguh-sungguh

Dikalangan santri mahfudhat ini mungkin sudah tak asing lagi, bisa jadi karena saking mudahnya untuk dihafal dan dilafalkan, sehingga seolah-olah maknanya menjadi biasa-biasa saja, keluarbiasaanya sirna, sedangkan sisanya hanya tulisan dalam kitab dan lebihnya merupakan rekaman yang terpatri dalam memori bersangkutan masing-masing saja.

Maknanya yang seolah lenyap dalam kandungan “Barang siapa yang sungguh-sungguh pasti dapat”, sudah merupakan buah konsekwensi logis saja sebenarnya dari lajunya proses yang seharusnya masih berlanjut, namun yang terjadi adalah terhenti di tengah-tengah perjalanan. Mungkin kejadian lebih disebabkan oleh mandegnya informasi yang mendukung lajunya proses trasformasi tersebut, sehingga hanya membuahkan verbalisasi saja yang berwujud pada orasi atau khitobah semata, teori gitu lho.

Proses masih berlanjut dan tidak berhenti sampai disini, dunia santri terus berbenah diri dengan percepatan teknologi informasi yang kian membahana. Secara perlahan namun pasti, proses transformasi semakin kentara buahnya. Santri yang dahulunya indentik dengan sarung, kopiah, kitab kuning, belajar dan mengajar ngaji di mushalla, di masjid, serta mondok di pesantren, kini sudah tidak lagi beratribut seperti itu.

Karena kini eranya paradigma baru, santri bisa seorang birokrat, politisi, profesional, pengusaha, karyawan, akademisi, mahasiswa, guru, siswa, tentara, dst. atau dibidangnya masing-masing, yang mau iqro kekinian dan mengimplemtasikan ilmunya bagi kemaslahatan kemanusiaan, dengan ahlaqul karimah yang kasih dan sayang. Begitulah santri saat ini, ragam dan warna-warni, saling bersinergi dalam kehidupan.

Wah…, ngelanturnya kepanjangan nih. Oke, kita langsung saja kembali ke pokok bahasan. Dan saya hanya men-share makna “man jadda wa jadda” ini, barang sepatah atau dua patah saja, dan jika masih di rasa kurang, saya persilahkan anda mencarinya sendiri agar lebih jelas dan terang adanya.

Begini maksudnya, makna mutiara kata “barang siapa yang sungguh-sungguh pasti dapat”, dapat ditinjau dengan dua pendekatan, pertama pendekatan secara positive, dan kedua pendekatan secara negative. Dua kubu ini, jika ditinjau dari ilmu komputer akan menjadi prinsip kerja yang positif yaitu GIGO (Gold In Gold Out), dan prinsip kerja yang negative yaitu GIGO (Garbage In Garbage Out).

Mekanismenya dapat diurai menjadi: Input – Proses – Output. Mekanisme proses ini tentunya harus didukung oleh perencanaan yang matang, terukur, dan tepat sasaran. Di dalam implementasinya juga harus berdasarkan pada fungsi-fungsi manajemen yang aplikatif, seperti manajemen-nya pak Deming, yaitu PDCA (Plan, Do, Check, Action) yang tujuannya adalah agar proses standar mutu yang bergulir dapat ditingkatkan menjadi mutu yang prima.

Sebagai contoh, suatu produk sepatu yang memiliki mutu dan kwalitas yang prima akan diburu oleh konsumennya, jadi bukannya sepatunya yang memburu konsumen, tetapi konsumennya yang memburu sepatu tersebut. Mutu dan atau kwalitas itu kalau diibaratkan seperti magnet yang mampu menarik semua benda yang bermaget disekelilingnya. Makanya, jadilah maget atau ber-magnet atau ber-mutu sesuai bidangnya masing-masing.

Contoh berikutnya adalah dosen. Dosen haruslah kompeten dibidangnya serta memiliki kredibelitas yang baik. Kredibel disini dapat diartikan sebagai berproduksi, misalnya: penelitiannya, walaupun penelitian saat ini belum menjadi industri, enggak apa-apa, pasti ada manfaatnya; buku karangannya banyak diterbitkan; tulisannya terpampang diberbagai media; atau minimal blog-lah.

Memaknai fenomena di atas dapat dengan “khoiru nass anfa’uhunm li-nnas, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia” atau dengan kata lain, katika manusia telah menjadi magnet/berkualitas, maka menurut Profesor Yohannes Surya menyebutnya dengan mestakung (semesta mendukung) mu.

Kembali ke topik, pada proses cycle inilah sebenarnya yang memungkinkan terjadinya perubahan mutu yang akan bermuara pada continuous improvement atau perbaikan yang berkelanjutan. Dan untuk itulah, mari kita menuju perubahan yang signifikan itu, dengan meng-up-grade diri kita menjadi diri yang baru (tobe a new you). Selanjutnya terserah anda.

Selasa, 16 Maret 2010

Sebuah Makna ‘Barokah’ yang kadang Terlupakan

"Cukuplah yang sedikit, asalkan barokah"

Secara harfiah, barokah berarti an-nama’ waz ziyadah yakni tumbuh dan bertambah. Atau bisa didefinisikan dengan kata majemuk jalbul khoir atau sesuatu yang dapat membawa kebaikan. Ini berarti Barokah adalah kebaikan yang bersumber dari Allah yang ditetapkan terhadap sesuatu sebagaimana mestinya sehingga apa yang diperoleh dan dimiliki akan selalu berkembang dan bertambah besar manfaat kebaikannya. Kalau sesuatu yang kita miliki membawa pengaruh negatif, maka kita berarti tidak memperoleh barokah yang diidamkan itu.

Barokah dari harta yang kita miliki adalah bukan hanya harta itu bertambah banyak tetapi juga ketika melalui harta itu kita bisa lebih mendekatkan diri dan lebih bersemangat dalam kebaikan dan beribadah kepada Allah. Kalau mau lihat contoh real dari keberkahan harta, lihatlah Rosululloh dan para sahabatnya, mereka kaya, harta mereka banyak, tapi dengan semua itu tidak turun intensitas ibadah mereka hanya karena kesibukan untuk mengurus harta yang mereka miliki. Karena mereka hanya meletakkan harta di tangan mereka, tidak di hati mereka.

Barokah dari umur yang kita miliki adalah ketika Allah memberikan kemanfaatan terhadap waktu yang kita miliki dalam hal kebaikan, waktu yang kita punya senantiasa bermanfaat untuk kebaikan dunia dan akherat kita, kedua-duanya bukan hanya salah satu saja.Tidak sedikit orang yang mempunyai umur yang panjang, 80 tahun atau ada yang 100 tahun lebih (walaupun sedikit), tapi jarang yang selama hidupnya banyak memberikan kemanfaatan hidupnya untuk kebaikan. Keberkahan hidup yang Allah berikan bisa kita lihat salah satunya pada diri seorang Imam Nawawi, tahukah berapa umur beliau di dunia ?? beliau meninggal pada umur (kurang lebih) 35 tahun, tapi begitu banyak umat ini yang mengenal nama beliau karena kebaikannya, begitu besarnya kontribusi beliau untuk umat ini. Siapa yang tidak tahu Syarah ‘Arba’in Nawawi ? Riyadus Sholihiin dan kitab-kitab lain yang beliau tulis.

Barokah dari keluarga dan keturunan yang kita miliki adalah ketika mereka bisa menjadi penyejuk pandangan dan patner kita dalam beribadah, bukan malah sebaliknya menjadi hambatan dalam kita menunaikan kewajiban kita kepada Allah. Keberkahan yang Allah berikan tidak hanya diberikan kepada orang tua yang sholeh atau anak yang sholeh saja. Dalam Al Qur’an Allah menceritakan pada kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa, ketika itu Nabi Khidir datang kepada suatu kaum dan melihat anak yatim yang rumahnya hampir roboh, dia (Khidir) kemudian membangun rumahnya kembali, apa alasannya ?? dalam ayat selanjutnya diterangkan bahwa alasannya adalah ‘karena orang tua anak itu adalah orang yang sholeh’ begitulah penjagaan dan keberkahan yang Allah berikan kepada hambaNya, bukan hanya kepada orang yang sholeh, tetapi juga kepada keluarganya. Oleh karena itulah Rosul mengajarkan untuk berdo’a kepada pengantin yang baru saja menikah supaya Allah memberikan barokah untuk rumah tangganya.

Barokallahu laka wa baroka alaika Wa jama’a bainakuma fii khaiir

Barokah dari makanan, — pernahkah anda sehabis makan terus kekenyangan, ngantuk…terus tidur ?? saya pernah … hehe, lho kok malah kesini… –. Makanan yang barokah adalah makanan yang bisa membawa kita untuk terus giat beribadah, bukan malah menjadikan malas, dan juga tidak membawa mudharat bagi kesehatan kita, untuk itu syariat menganjurkan untuk memilih makanan yang sudah jelas bukan hanya halalnya saja tapi juga toyyibnya.

Dan masih banyak barokah-barokah dari yang lain.Yang jelas barokah itu dari Allah, kita sebagai hamba hendaknya meminta agar mendapat keberkahan dari waktu kita, harta kita, keluarga dan keturunan kita (kalo yang sudah berkeluarga lho ya), makanan kita dan lain sebagainya. Kan sayang to kalau hartanya banyak, umurnya panjang, istrinya …… –mmm ga usah diterusin lah ya–, ilmunya banyak tapi tidak ada barokahnya, tidak bermanfaat sedikitpun untuk akherat kita.

……..walaupun hidup seribu tahun, kalau tak sembahyang apa gunanya …….

Last, inti dari tulisan ini ada dalam Surat Al A’raaf : 96, Allah berfirman “Kalaulah sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa, sungguh Kami akan bukakan atas mereka Keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakannya, maka kami siksa mereka dengan kedustaan itu.” Kunci untuk mendapatkan keberkahan itu adalah dengan adalah beriman dan bertaqwa secara benar dan nyata. Keimanan tidak cukup hanya kita meyakini dalam hati dan mengucapkan dengan lisan saja, tanpa ada bukti konkret dari pengamalan kita, tanpa ada kerja-kerja real yang kita lakukan, iman yang sempurna adalah ketika hati kita telah meyakini, lisan kita telah mengucapkan dan perbuatan kita telah membenarkannya. Realisasi dari taqwa kepada Allah adalah dengan berusaha menjaga Syariat Allah, yaitu mengamalkan apa yang telah Allah perintahkan dan menjauhi sejauh-jauhnya apa yang telah Allah larang. Semoga kita senantiansa dimudahkan Allah agar mendapatkan keberkahanNya.

Allaahu a’lam.

http://greenleaves.wordpress.com/2008/01/09/sebuah-makna-barokah-yang-kadang-terlupakan/

Senin, 11 Januari 1999

Doa Untukmu Ibu

YA ALLAH, DI PAGI YANG INDAH INI KAMI SERAHKAN DIRI DAN SEGALA URUSAN KAMI KEPADA-MU KAMI HADAPKAN WAJAH KAMI KEPADA-MU SERAYA MENGHATURKAN SEGALA PUJI DAN SYUKUR KE HADIRAT-MU ATAS SEGALA NIKMAT YANG TELAH ENGKAU LIMPAHKAN KEPADA KAMI JANGAN JADIKAN KAMI UMAT YANG LUPA AKAN SELURUH NIKMAT-MU
YA ALLAH PADA PERINGATAN HARI IBU SA’AT INI KAMI TENGADAHKAN TANGAN KAMI MEMOHON KEPADAMU AMPUNILAH DOSA-DOSA IBU KAMI DOSA-DOSA KAMI YANG MUNGKIN TELAH SERING MEMBUAT HATI MEREKA SEDIH DAN KESAL
YA GHAFFAR, YA RAHIM ENGKAU TELAH MELETAKKAN KAMI DI DALAM RAHIM IBU ANAK NEGERI INDONESIA TERCINTA INI ENGKAU AMANAHI IBU KAMI AGAR SENANTIASA MEMBERI LINDUNGAN KASIH-SAYANG PADA KAMI ENGKAU PERCAYAKAN JIWA KAMI PADA BIMBINGAN RUHANI IBU ENGKAU HANGATKAN TUBUH KAMI DENGAN DEKAPAN CINTA IBU ENGKAU BESARKAN BADAN KAMI DENGAN ALIRAN AIR SUSU IBU
YA ALLAH YA JABBAR YA GHAFFAR ANUGERAHKAN KEPADA IBU KAMI KE’ARIFAN UNTUK MENDIDIK KAMI DALAM KESALEHAN BISIKKAN KEPADA IBU KAMI HIDAYAH DAN TAUFIK-MU AGAR IBU KAMI SENANTIASA MENJADI SURI TELADAN BAGI KAMI LIMPAHKAN KEPADA IBU KAMI PERLINDUNGAN-MU SUPAYA IBU KAMI DAPAT MELINDUNGI KAMI DENGAN KEADILAN-MU JAUHKAN IBU KAMI DARI KEMUNAFIKAN,, KUFUR NIKMAT DAN KEZALIMAN SEHINGGA MEREKA DAPAT MENGABDI KEPADAMU DENGAN IKHLASH, TENANG DAN TENTRAM
YA RABB BERILAH KAMI PELUANG UNTUK MENDEKAP TUBUH MEREKA DENGAN SENTUHAN KASIH SAYANG BERILAH KAMI KESEMPATAN UNTUK SELALU DEKAT DENGANMU DAN MENYAMPAIKAN DOA KAMI KEPADAMU UNTUK KESELAMATAN KESEJAHTERAAN DAN KEBAHAGIAAN IBU KAMI BANGUNKAN KAMI DI TENGAH MALAM UNTUK MEMANGGIL LIRIH NAMA-MU MENGADUKAN DERITA DAN PETAKA YANG MENIMPA IBU KAMI IZINKAN KAMI MEMBASAHI TEMPAT SUJUD KAMI DENGAN AIR MATA TAUBAT DAN PENYESALAN AKAN KHILAF DAN ALFA KAMI
YA RAHMAN YA RAHIM INDAHKAN KEHIDUPAN IBU DENGAN KESALEHAN KAMI PELIHARALAH ANAK-ANAK KAMI YANG KECIL SEHINGGA BISA MENJADI PELITA KEBAHAGIAAN MEREKA KUATKANLAH IBU KAMI YANG LEMAH SUCIKAN KALBU MEREKA BERSIHKAN DAN JAGA KEHORMATAN MEREKA SEHATKAN BADAN DAN INDAHKAN AKHLAK MEREKA GABUNGKANLAH MEREKA BERSAMA ORANG-ORANG YANG BERTAKWA KEPADA-MU YANG MENCINTAI NABI-MU KELUARGANYA YANG SUCI DAN SAHABATNYA YANG MULIA
YA ALLAH TERIMALAH DO’A DAN PERMOHONAN KAMI